{"id":8569,"date":"2026-09-30T23:23:40","date_gmt":"2026-09-30T16:23:40","guid":{"rendered":"https:\/\/cianjur.co\/news\/?p=8569"},"modified":"2026-09-30T23:23:40","modified_gmt":"2026-09-30T16:23:40","slug":"sekolah-ramah-lingkungan-garut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cianjur.co\/news\/sekolah-ramah-lingkungan-garut\/","title":{"rendered":"Pemkab Garut Gandeng Swasta Bangun Sekolah Ramah Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p><strong>CIANJUR.CO<\/strong> &#8211; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut, Jawa Barat, menggandeng pihak swasta untuk membangun fasilitas pendidikan yang ramah lingkungan. Salah satu wujud kerja sama itu hadir di SDN 3 Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, melalui pembangunan dua ruang kelas dan fasilitas toilet. Bagian dinding bangunan menggunakan bata yang dibuat dari olahan sampah plastik.<\/p>\n<p>Berdasarkan laporan ANTARA Jabar, bangunan ruang kelas tersebut diresmikan pada Rabu. Pembangunannya menggunakan 18 ton sampah plastik yang diolah menjadi material bangunan. Proyek ini memadukan kebutuhan sekolah akan ruang belajar tambahan dengan pemanfaatan sampah sebagai bahan untuk membangun fasilitas pendidikan.<\/p>\n<p>Sekretaris Daerah Pemkab Garut, Nurdin Yana, menjelaskan bahwa hubungan pemerintah daerah dengan pihak swasta dalam pembangunan telah terjalin sejak beberapa tahun sebelumnya. Ia mengatakan kerja sama tersebut sudah ada lebih dahulu, sedangkan kegiatan di SDN 3 Sukanegla menjadi bagian dari pelaksanaan kerja bersama itu.<\/p>\n<p>\u201cKami sudah ada kerja sama jauh-jauh sebelumnya, beberapa tahun sebelumnya, hari ini membangun dengan konteks bekerja sama,\u201d kata Nurdin setelah peresmian. Ia menyampaikan bahwa Pemkab Garut berupaya menjalin kolaborasi dengan semua pihak swasta yang peduli terhadap pendidikan dan pembangunan daerah.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/literasi-geopolitik-paguyuban-pasundan\/\">Wamenlu Dorong Pasundan Cetak Pemikir Politik Hadapi Ancaman Global<\/a><\/p>\n<p>Upaya mengajak mitra swasta itu dilakukan di tengah efisiensi anggaran. Menurut Nurdin, kerja sama memungkinkan berbagai pihak ikut mendukung pembangunan Garut. Dalam proyek sekolah, dukungan tersebut berkaitan dengan penyediaan ruang kelas yang dapat digunakan siswa, sekaligus pemanfaatan material yang berasal dari sampah plastik.<\/p>\n<p>Salah satu kolaborasi yang telah berjalan melibatkan Yayasan Bakti Barito bersama sejumlah mitra. Mitra yang disebut Nurdin adalah Kitabisa, Star Energy Geothermal, serta mitra teknologi Biru Langit Utama Indonesia (BLU). Kerja sama dengan berbagai pihak itu menjadi bagian dari upaya membangun fasilitas, termasuk bangunan sekolah di Garut.<\/p>\n<p>Nurdin menyebut sudah ada 40 bangunan yang dibangun oleh Yayasan Bakti Barito melalui kerja sama dengan pihak lain. Bangunan di SDN 3 Sukanegla menjadi salah satu di antaranya. Di sekolah tersebut, hasil pembangunan yang diresmikan mencakup dua ruang kelas baru dan fasilitas toilet, dengan penggunaan 18 ton sampah plastik olahan.<\/p>\n<p>Bantuan pihak swasta, kata Nurdin, meringankan pemerintah daerah dan memberi manfaat bagi masyarakat. Di lingkungan sekolah, manfaat yang ia sampaikan berupa tersedianya ruang kelas yang nyaman dan aman untuk kegiatan belajar. Penggunaan olahan plastik juga membuat pembangunan itu memiliki unsur ramah lingkungan karena sampah plastik didaur ulang menjadi material bangunan.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/pengeroyok-sopir-grab-di-wanaraja\/\">Dua Terduga Pengeroyok Sopir Grab di Wanaraja Ditangkap<\/a><\/p>\n<p>Nurdin turut menanggapi keamanan dan kekuatan bangunan yang menggunakan bata hasil olahan sampah plastik. \u201cInsya Allah aman, kalau soal kuat, saya kira dibandingkan dengan yang lain juga kuat,\u201d ujarnya. Pernyataan itu disampaikan saat menjelaskan bangunan ruang kelas ramah lingkungan yang baru diresmikan di sekolah tersebut.<\/p>\n<p>Kepala SDN 3 Sukanegla, Fitri Firdaus, menyampaikan terima kasih atas hadirnya ruang kelas baru. Ia menyoroti bagian dinding yang dibuat dari bata hasil daur ulang sampah plastik. Menurut Fitri, tambahan ruang itu penting karena sekolah memiliki 196 siswa, sementara jumlah ruang kelas sebelumnya terbatas.<\/p>\n<p>Sebelum dua kelas baru tersedia, kegiatan belajar mengajar di SDN 3 Sukanegla harus berlangsung secara bergantian. Sekolah membagi jadwal menjadi kelas pagi dan kelas siang karena keterbatasan ruang. Dengan penambahan ruang belajar tersebut, sekolah kini memiliki tempat baru untuk menunjang kegiatan belajar mengajar para siswa.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/kebakaran-btn-joglo-cianjur\/\">Polisi Pastikan H Sengaja Membakar Rumah di BTN Joglo Cianjur<\/a><\/p>\n<p>Direktur Yayasan Bakti Barito, Dian Purbasari, mengatakan kondisi jumlah siswa yang banyak sementara ruang belajar terbatas menjadi salah satu hal yang diperhatikan. Ia menyebut Pemkab Garut telah merencanakan pembangunan ruang kelas baru di SDN 3 Sukanegla. Rencana itu kemudian ditindaklanjuti yayasan bersama mitra melalui gagasan pembangunan ruang belajar ramah lingkungan.<\/p>\n<p>Pembangunan tersebut dijalankan melalui program Green Guardians. Dian mengatakan program itu memanfaatkan beberapa material bangunan dari sampah plastik, seperti yang telah dilakukan di sejumlah sekolah sebelumnya di Garut. Untuk proyek di SDN 3 Sukanegla, para mitra mengumpulkan 18 ton sampah plastik yang bernilai rendah untuk digunakan dalam pembangunan.<\/p>\n<p>Dian menjelaskan, kerja sama para mitra diarahkan untuk membangun dengan memanfaatkan sampah yang sebelumnya memiliki nilai rendah. Pengumpulan 18 ton plastik menjadi bagian dari proses penyediaan material untuk ruang belajar baru tersebut. Dengan demikian, proyek di SDN 3 Sukanegla sekaligus menjawab kebutuhan ruang kelas yang disampaikan pihak sekolah dan menjalankan gagasan pemanfaatan kembali sampah plastik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SDN 3 Sukanegla mendapat dua ruang kelas dan toilet yang dibangun dengan memanfaatkan 18 ton sampah plastik sebagai material.<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8571,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[5],"tags":[2297,1120,2296,2294,2295],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8569"}],"collection":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8569"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8569\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8570,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8569\/revisions\/8570"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8571"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8569"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8569"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8569"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}