{"id":8565,"date":"2026-09-30T20:23:52","date_gmt":"2026-09-30T13:23:52","guid":{"rendered":"https:\/\/cianjur.co\/news\/?p=8565"},"modified":"2026-09-30T20:23:52","modified_gmt":"2026-09-30T13:23:52","slug":"literasi-geopolitik-paguyuban-pasundan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cianjur.co\/news\/literasi-geopolitik-paguyuban-pasundan\/","title":{"rendered":"Wamenlu Dorong Pasundan Cetak Pemikir Politik Hadapi Ancaman Global"},"content":{"rendered":"<p><strong>CIANJUR.CO<\/strong> &#8211; Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta mendorong Paguyuban Pasundan mengembangkan peran lembaga pendidikannya agar mampu melahirkan pemikir politik dan ekonomi yang sanggup membaca perubahan dunia. Ia menilai bekal tersebut diperlukan untuk membantu Indonesia menghadapi ancaman global, termasuk perang hibrida dan perang kognitif.<\/p>\n<p>Pesan itu disampaikan Anis saat memberikan Kuliah Umum Wawasan Geopolitik dan Kebangsaan di Aula Paguyuban Pasundan, Bandung, Rabu. Kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama Kementerian Luar Negeri RI dengan Paguyuban Pasundan. Seperti diberitakan ANTARA Jabar, kuliah umum itu dihadiri jajaran Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, pimpinan yayasan, rektor, dekan, serta guru besar Universitas Pasundan.<\/p>\n<p>Di hadapan para peserta, Anis menegaskan bahwa lembaga pendidikan yang berada di bawah organisasi kemasyarakatan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan akademik. Menurut dia, pendidikan juga perlu menyiapkan aktor yang mampu memahami konstelasi global dan membaca persaingan antarnegara, termasuk dinamika Amerika Serikat dan China.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, perang pada masa kini melibatkan banyak bidang sekaligus. Unsur politik, ekonomi, geografi, intelijen, budaya, dan media, kata Anis, dapat menjadi bagian dari suatu pertempuran. Karena itu, ancaman tidak bisa dipahami hanya dari satu sisi atau semata-mata sebagai persoalan militer.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/pengeroyok-sopir-grab-di-wanaraja\/\">Dua Terduga Pengeroyok Sopir Grab di Wanaraja Ditangkap<\/a><\/p>\n<p>\u201cPerang sekarang bersifat hibrida. Ada politiknya, ada ekonominya, ada sisi geografisnya, ada intelijennya, ada budayanya, dan ada medianya. Semua aspek terlibat dalam pertempuran,\u201d kata Anis.<\/p>\n<p>Ia mengaitkan perubahan tersebut dengan pergeseran kekuatan dunia. Setelah Uni Soviet runtuh pada 1991 dan kekuatan ekonomi China bangkit, Anis menyebut negara-negara melakukan penyesuaian strategis atau <em>strategic adjustment<\/em>. Dalam situasi itu, menurut dia, pendidikan perlu membekali generasi muda dengan literasi geopolitik agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton saat dunia mengalami turbulensi.<\/p>\n<p>Anis juga menempatkan perang kognitif sebagai inti dari berbagai pergerakan geopolitik. Ia menyebut kemampuan berpikir sebagai faktor penting untuk bertahan dalam persaingan tersebut. Dengan kerangka itu, dorongannya kepada Paguyuban Pasundan bukan hanya agar lembaga tersebut mengajarkan wawasan kebangsaan, melainkan juga membentuk sumber daya manusia yang mampu berpikir lebih canggih dalam membaca persoalan politik dan ekonomi.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/kebakaran-btn-joglo-cianjur\/\">Polisi Pastikan H Sengaja Membakar Rumah di BTN Joglo Cianjur<\/a><\/p>\n<p>\u201cKita hidup di era di mana inti dari semua pergerakan geopolitik pada dasarnya adalah perang kognitif, perang otak,\u201d ujarnya. Anis mengatakan pihak yang dapat bertahan ditentukan oleh orang-orang yang berpikir lebih canggih, seraya berharap Paguyuban Pasundan dapat menciptakan \u201cotak politik dan ekonomi\u201d untuk masa depan.<\/p>\n<p>Ia menilai Indonesia memiliki peluang untuk mengambil peran besar dalam kepemimpinan, dengan memanfaatkan posisi geografis yang strategis dan kedekatan diplomasi dengan dunia Islam. Anis juga menyebut konsistensi Indonesia dalam mengawal isu Palestina sebagai bagian dari konteks tersebut. Namun, ia menekankan peluang itu perlu ditopang sumber daya manusia yang mumpuni.<\/p>\n<p>Dalam harapannya, lembaga pendidikan di bawah Paguyuban Pasundan yang dikomandani Prof. Didi Turmudzi dapat melahirkan orang-orang terbaik yang mampu membantu Indonesia melewati turbulensi geopolitik yang kompleks. Ia menyampaikan harapan itu sebagai bagian dari ajakan agar institusi pendidikan menyiapkan generasi yang sanggup memahami tantangan global, bukan sekadar mengikuti perubahan tanpa kemampuan membaca arah dan dampaknya.<\/p>\n<p><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/data-pemilih-cianjur-2026\/\">Data Pemilih Berkelanjutan Cianjur Triwulan III 2026 Capai 1.966.527 Orang<\/a><\/p>\n<p>Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan Prof. Didi Turmudzi menyambut penguatan peran politik dan moral yang disampaikan Anis. Didi menyatakan lembaganya siap melakukan refleksi dan pembaruan untuk menjawab tantangan yang ia sebut sebagai kebangkrutan moral serta intervensi budaya asing.<\/p>\n<p>Didi mengatakan kehadiran Anis merupakan kehormatan bagi Paguyuban Pasundan. Ia berharap ada gambaran mengenai perjuangan umat Islam, terutama dalam menghadapi perubahan politik global. Menurut Didi, perubahan zaman menghadirkan realitas baru yang harus dihadapi, sehingga pranata pendidikan Pasundan perlu meninjau kembali perannya sekaligus melakukan pembaruan.<\/p>\n<p>Komitmen tersebut sejalan dengan pokok pembahasan kuliah umum: pendidikan menjadi salah satu ruang untuk menyiapkan kemampuan membaca dinamika global. Anis menempatkan literasi geopolitik dan kecakapan berpikir sebagai bekal menghadapi perang hibrida maupun kognitif, sementara Didi menyatakan kesiapan Paguyuban Pasundan untuk berefleksi dan menyesuaikan diri dengan tantangan yang dihadapi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Muhammad Anis Matta meminta lembaga pendidikan Paguyuban Pasundan membekali generasi muda dengan literasi geopolitik untuk menghadapi perang hibrida dan kognitif.<\/p>\n","protected":false},"author":0,"featured_media":8567,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[5],"tags":[1119,2292,2291,2290,2293],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8565"}],"collection":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8565"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8565\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8566,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8565\/revisions\/8566"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8567"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8565"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8565"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8565"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}