{"id":7484,"date":"2025-07-09T11:52:09","date_gmt":"2025-07-09T04:52:09","guid":{"rendered":"https:\/\/cianjur.co\/news\/?p=7484"},"modified":"2025-11-17T16:36:23","modified_gmt":"2025-11-17T09:36:23","slug":"situs-kuta-tanggeuhan-dan-hubunganya-dengan-pantun-paku-jajar-beukah-kembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cianjur.co\/news\/situs-kuta-tanggeuhan-dan-hubunganya-dengan-pantun-paku-jajar-beukah-kembang\/","title":{"rendered":"Penemuan Situs Kuta Tanggeuhan dan Hubunganya Dengan Pantun Paku Jajar Beukah Kembang"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"1017\" data-end=\"1462\"><strong>CIANJUR.CO<\/strong> &#8211; Situs Kuta Tanggeuhan menjadi salah satu temuan menggemparkan dalam bidang arkeologi budaya di Kabupaten Cianjur. Berada di Dusun Cidaweung, Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, situs ini ditemukan dan diperkenalkan oleh seorang budayawan lokal bernama <strong data-start=\"1280\" data-end=\"1294\">Kang Fajri<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"1017\" data-end=\"1462\">Dalam perjalanan penelitiannya, Kang Fajri bersama tim menggali makna dan jejak sejarah yang selama ini tersembunyi di balik rimbunnya semak-semak pegunungan kaki Gunung Gede Pangrango.<\/p>\n<p data-start=\"1464\" data-end=\"1778\">Situs ini disebut <strong data-start=\"1482\" data-end=\"1501\">Kuta Tanggeuhan<\/strong>, yang dalam Bahasa Sunda mengandung makna &#8220;kuta&#8221; sebagai benteng atau pagar pelindung dan &#8220;tanggeuhan&#8221; sebagai sesuatu yang kuat dan teguh. Nama tersebut mencerminkan karakter lokasi yang dipercaya menjadi pusat penting dalam struktur pertahanan atau pemerintahan masa lampau.<\/p>\n<p data-start=\"1780\" data-end=\"1983\">Menurut Kang Fajri, penemuan situs ini bukan sekadar tempat kosong, tetapi menyimpan <strong data-start=\"1865\" data-end=\"1911\">jejak arkeologi, spiritualitas, dan budaya<\/strong> yang selama ini belum banyak diketahui publik, bahkan oleh warga lokal.<\/p>\n<p data-start=\"1780\" data-end=\"1983\"><strong>Baca juga<\/strong>: <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/legenda-curug-ngebul-pagelaran-cianjur\/\">Legenda Curug Ngebul: Asal Usul Mistis dari Pagelaran Cianjur<\/a><\/p>\n<h2 data-start=\"1990\" data-end=\"2046\"><strong data-start=\"1993\" data-end=\"2046\">Letak dan Kondisi Geografis Situs Kuta Tanggeuhan<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"2048\" data-end=\"2422\">Situs Kuta Tanggeuhan berada pada posisi yang strategis, tepatnya di daerah perbukitan Dusun Cidaweung. Dengan <strong data-start=\"2159\" data-end=\"2216\">ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut<\/strong>, daerah ini menawarkan panorama alam yang menakjubkan sekaligus menyimpan kesan mistis. Medan menuju lokasi cukup menantang, namun masih bisa diakses dengan berjalan kaki melalui jalur kecil yang menanjak.<\/p>\n<p data-start=\"2424\" data-end=\"2741\">Area situs ditandai oleh <strong data-start=\"2449\" data-end=\"2499\">struktur tanah yang membentuk bekas pagar batu<\/strong>, gundukan tanah berbentuk kotak, dan beberapa titik yang diduga kuat sebagai <strong data-start=\"2577\" data-end=\"2613\">altar pemujaan atau pusat ritual<\/strong>. Situs ini juga dikelilingi oleh pohon-pohon tua yang diyakini menjadi saksi bisu perjalanan panjang budaya di kawasan Cipanas.<\/p>\n<h2 data-start=\"2748\" data-end=\"2809\"><strong data-start=\"2751\" data-end=\"2809\">Kaitannya dengan Naskah Pantun Paku Jajar Beukah Kembang<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"2811\" data-end=\"3117\">Penemuan situs ini makin menarik karena <strong data-start=\"2851\" data-end=\"2892\">terkait erat dengan naskah kuno Sunda<\/strong> bernama <strong data-start=\"2901\" data-end=\"2935\">Pantun Paku Jajar Beukah Kembang<\/strong>. Naskah ini bukan sekadar kumpulan pantun, melainkan sebuah petunjuk atau narasi yang mengandung petunjuk tentang tempat-tempat keramat dan lokasi spiritual yang harus dilestarikan.<\/p>\n<p data-start=\"3119\" data-end=\"3444\">Menurut hasil interpretasi Kang Fajri dan para peneliti budaya Sunda lainnya, beberapa bait dalam naskah pantun tersebut menyebutkan <strong data-start=\"3252\" data-end=\"3309\">&#8220;Gunung Gede minangka kutana, Tanggeuhan rasa nagara&#8221;<\/strong>, yang secara bebas dapat diartikan bahwa Gunung Gede menjadi benteng spiritual dan tangguh sebagai rasa dari nagara (negara\/kesatuan).<\/p>\n<p data-start=\"3446\" data-end=\"3684\">Ini memperkuat dugaan bahwa <strong data-start=\"3474\" data-end=\"3575\">Situs Kuta Tanggeuhan merupakan salah satu titik penting dalam peta spiritual kerajaan Sunda kuno<\/strong>, atau bahkan tempat pusat meditasi para leluhur yang memiliki hubungan kuat dengan alam dan kosmologi lokal.<\/p>\n<h2 data-start=\"3691\" data-end=\"3746\"><strong data-start=\"3694\" data-end=\"3746\">Analisis Struktur Situs: Jejak Peradaban Leluhur<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"3748\" data-end=\"3857\">Dari hasil penelusuran dan ekskavasi sederhana oleh tim lokal dan Kang Fajri, ditemukan beberapa hal menarik:<\/p>\n<ul data-start=\"3859\" data-end=\"4120\">\n<li data-start=\"3859\" data-end=\"3949\">Pondasi Batu Bersusun: Diduga sebagai bekas struktur bangunan atau pagar pertahanan.<\/li>\n<li data-start=\"3950\" data-end=\"4023\">Lingkaran Batu: Bisa jadi merupakan tempat berkumpul atau pemujaan.<\/li>\n<li data-start=\"4024\" data-end=\"4120\">Gundukan Tanah: Teratur dan simetris, kemungkinan besar bekas permukiman atau tempat suci.<\/li>\n<li data-start=\"4024\" data-end=\"4120\">Batu Tilu Undak Tujuh<\/li>\n<li data-start=\"4024\" data-end=\"4120\">Batu Kujang<\/li>\n<li data-start=\"4024\" data-end=\"4120\">Batu Sajadah<\/li>\n<li data-start=\"4024\" data-end=\"4120\">Batu Telapak Kaki<\/li>\n<li data-start=\"4024\" data-end=\"4120\">Batu Tulis dengan simbol kepala macan<\/li>\n<li data-start=\"4024\" data-end=\"4120\">Batu Peta<\/li>\n<li data-start=\"4024\" data-end=\"4120\">Batu Dolmen<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"4122\" data-end=\"4385\">Sobat Cianjur perlu tahu bahwa struktur seperti ini sangat jarang ditemukan di kawasan Cipanas. Apalagi, situs ini tidak masuk dalam daftar resmi Balai Arkeologi sebelumnya. Hal ini membuat <strong data-start=\"4312\" data-end=\"4384\">penemuan Kuta Tanggeuhan semakin penting untuk diteliti lebih lanjut<\/strong>.<\/p>\n<h2 data-start=\"4392\" data-end=\"4430\"><strong data-start=\"4395\" data-end=\"4430\">Spiritualitas dan Energi Lokasi<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"4432\" data-end=\"4821\">Tak sedikit peziarah spiritual yang telah mengunjungi lokasi ini merasakan <strong data-start=\"4507\" data-end=\"4541\">energi mistis yang sangat kuat<\/strong>. Konon, lokasi Kuta Tanggeuhan menjadi pusat meditasi para leluhur Sunda. Hal ini semakin diperkuat oleh narasi dalam Pantun Paku Jajar Beukah Kembang yang menyiratkan bahwa kekuatan spiritual sebuah daerah ditentukan oleh<strong data-start=\"4714\" data-end=\"4821\"> &#8220;tanggeuhan rasa&#8221; <\/strong>atau fondasi rasa dan kebijaksanaan<strong data-start=\"4714\" data-end=\"4821\">.<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"4823\" data-end=\"5060\">Kang Fajri sendiri meyakini bahwa tempat ini adalah <strong data-start=\"4875\" data-end=\"4889\">&#8220;pakubumi&#8221;<\/strong>, yaitu pusat energi bumi yang menjadi sumbu spiritual kawasan Cipanas dan sekitarnya. Banyak pejalan spiritual menyebut tempat ini sebagai <strong data-start=\"5029\" data-end=\"5059\">&#8220;kunci pusaka tanah Sunda&#8221;<\/strong>.<\/p>\n<h2 data-start=\"5067\" data-end=\"5126\"><strong data-start=\"5070\" data-end=\"5126\">Kaitan Sejarah dengan Kerajaan Sunda dan Megalitikum<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"5128\" data-end=\"5383\">Beberapa ahli budaya yang turut mempelajari penemuan ini melihat <strong data-start=\"5193\" data-end=\"5277\">kesamaan karakteristik antara Situs Kuta Tanggeuhan dengan situs-situs megalitik<\/strong> di wilayah Jawa Barat lainnya seperti di Gunung Padang atau Situs Cengkuk. Beberapa indikasi antara lain:<\/p>\n<ul data-start=\"5385\" data-end=\"5551\">\n<li data-start=\"5385\" data-end=\"5430\">\n<p data-start=\"5387\" data-end=\"5430\"><strong data-start=\"5387\" data-end=\"5416\">Letak geografis strategis<\/strong> di ketinggian<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"5431\" data-end=\"5479\">\n<p data-start=\"5433\" data-end=\"5479\"><strong data-start=\"5433\" data-end=\"5479\">Batu-batu besar tertata alami tapi berpola<\/strong><\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"5480\" data-end=\"5551\">\n<p data-start=\"5482\" data-end=\"5551\"><strong data-start=\"5482\" data-end=\"5551\">Orientasi posisi mengarah ke arah tertentu (matahari atau gunung)<\/strong><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"5553\" data-end=\"5878\">Ini menguatkan dugaan bahwa Kuta Tanggeuhan memiliki <strong data-start=\"5606\" data-end=\"5685\">nilai historis dan spiritual yang terhubung dengan kerajaan Sunda<\/strong>. Ada kemungkinan besar tempat ini pernah menjadi <strong data-start=\"5735\" data-end=\"5769\">pusat pertapaan raja atau resi<\/strong>, atau bahkan menjadi bagian dari <strong data-start=\"5803\" data-end=\"5877\">jalan spiritual menuju Gunung Gede sebagai pusat kosmologis Sunda Kuno<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"5553\" data-end=\"5878\"><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/news\/daftar-bupati-cianjur-dari-masa-ke-masa-lengkap-dan-terbaru\/\">Daftar Bupati Cianjur dari Masa ke Masa Lengkap dan Terbaru<\/a><\/p>\n<h2 data-start=\"5885\" data-end=\"5930\"><strong data-start=\"5888\" data-end=\"5930\">Peran Budaya Lokal dalam Menjaga Situs<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"5932\" data-end=\"6268\">Meski belum ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya nasional, Situs Kuta Tanggeuhan mulai menjadi perhatian publik, terutama oleh komunitas budaya lokal. Kang Fajri Ketua Umum <strong>Saba Leuweung Paksi<\/strong>, bersama tokoh masyarakat dan pemuda Desa Batulawang berharap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Bupati Cianjur, dan Bupati Bogor, serta dinas terkait dapat memberikan dukungan penuh serta pendampingan untuk pengelolaan optimal Situs Kuta Tanggeuhan.<\/p>\n<h2 data-start=\"6480\" data-end=\"6532\"><strong data-start=\"6483\" data-end=\"6532\">Dampak Penemuan terhadap Dunia Budaya Cianjur<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"6534\" data-end=\"6835\">Penemuan ini mengubah wajah Cianjur sebagai daerah yang semakin kaya akan warisan budaya. Selama ini, Cianjur dikenal dengan penginggalan peradaban kuno <a href=\"https:\/\/cianjur.co\/listing\/situs-megalitikum-gunung-padang\/\">Situs Megaliitikum Gunung Padang<\/a>. Namun kini, dengan adanya Situs Kuta Tanggeuhan, kekayaan arkeologi dan sejarah spiritual Cianjur semakin meningkat<strong data-start=\"6767\" data-end=\"6835\">.<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"6837\" data-end=\"7085\">Beberapa akademisi dari Universitas di Jawa Barat sudah mulai mendekati tim Kang Fajri untuk kolaborasi penelitian lebih mendalam. Ini membuktikan bahwa penemuan lokal pun bisa memberi kontribusi besar bagi keilmuan dan pelestarian budaya nasional.<\/p>\n<h2 data-start=\"7092\" data-end=\"7169\"><strong data-start=\"7095\" data-end=\"7169\">Ajakan untuk Sobat Cianjur: Mengenal Lebih Dekat Situs Kuta Tanggeuhan<\/strong><\/h2>\n<p data-start=\"7171\" data-end=\"7447\">Situs ini bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga <strong data-start=\"7222\" data-end=\"7274\">aset penting untuk masa depan kebudayaan Cianjur<\/strong>. Sobat Cianjur yang mencintai sejarah, spiritualitas, dan budaya, sudah sepatutnya <strong data-start=\"7358\" data-end=\"7442\">ikut menjaga, mengenali, dan menyebarkan informasi tentang Situs Kuta Tanggeuhan<\/strong> ini.<\/p>\n<p data-start=\"7449\" data-end=\"7721\">Tidak ada salahnya jika sobat Cianjur mencoba mendaki ke Dusun Cidaweung dan merasakan langsung kekuatan dan keheningan tempat ini. Siapa tahu, sobat Cianjur juga bisa merasakan \u201cbeukah kembang\u201d dalam makna spiritualnya: mekar batin, terbuka hati, dan terhubung dengan alam.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>CIANJUR.CO &#8211; Situs Kuta Tanggeuhan menjadi salah satu temuan menggemparkan dalam bidang arkeologi budaya di Kabupaten Cianjur. Berada di Dusun Cidaweung, Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, situs ini ditemukan dan diperkenalkan oleh seorang budayawan lokal bernama Kang Fajri. Dalam perjalanan penelitiannya, Kang Fajri bersama tim menggali makna dan jejak sejarah yang selama ini tersembunyi di balik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7489,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[5,467,1221,534],"tags":[554,559,553,394,558,560,555,556,537,550],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7484"}],"collection":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7484"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7484\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7490,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7484\/revisions\/7490"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7489"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7484"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7484"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cianjur.co\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7484"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}